SEJARAH HARI PAHLAWAN

By #adminweb 18 Nov 2020, 08:59:12 WIB Sekolah
SEJARAH HARI PAHLAWAN

75 tahun yang lalu, pada 10 November 1945, para pemuda Surabaya berjuang melawan serangan pasca-kemerdekaan yang dilakukan Sekutu di kota mereka.

Meski Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, itu bukan berarti bangsa ini sudah sepenuhnya bebas dari upaya bangsa lain yang masih ingin menguasai Nusantara.

Surabaya memang menjadi kota terjadinya pertempuran terbesar pada masa setelah kemerdekaan.
Ketika itu, Jepang yang kalah Perang Dunia II menyerah kepada Sekutu (Inggris dan Belanda), sehingga harus melepaskan Indonesia dari kekuasaannya.

Sebelum meninggalkan Indonesia, Jepang dituntut untuk menyerahkan semua senjatanya.
Akhirnya, pada 3 Oktober 1945 mereka menyerahkan senjata-senjata yang dimiliki kepada rakyat Indonesia yang nantinya bertanggung jawab untuk menyerahkannya kembali kepada pihak Sekutu.
Di akhir Oktober 1945, kapal perang milik Sekutu bernama Eliza Thompson berlabuh di Surabaya. Pasukan yang ada di dalamnya datang dengan dipimpin oleh Brigadir Jenderal AWS Mallaby

Angkatan Udara Inggris menjatuhkan selebaran di atas Surabaya yang berisi perintah pada rakyat Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali semua senjata dan peralatan perang milik Jepang dalam waktu 48 jam.
Jenderal Hawthorn, orang yang sebelumnya juga menjadi pimpinan pasukan, mengultimatum rakyat Surabaya. Jika tidak mematuhi perintah Inggris maka akan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.

Masyarakat Surabaya, khususnya para pemuda, pun dibuat geram dengan semua tindakan itu karena semua itu dianggap menghina bagi bangsa Indonesia yang sudah merdeka.

Atas persetujuan pemerintah, di bawah pimpinan Komandan Divisi TKR Mayor Jenderal Yono Sewoyo, maka dikeluarkan perintah perang kepada badan perjuangan, polisi, dan TKR untuk menghadapi Sekutu.

Di sinilah titik mula perlawanan terhadap Sekutu di Jawa Timur dimulai.
Ultimatum sekutu  Bagi pribumi yang masih nekat membawa senjata setelah pukul 06.00 WIB di tanggal 10 November 1945, diancam akan dijatuhi hukuman mati.

Ultimatum keras itu mengusik perasaan rakyat Indonesia karena dianggap menghina martabat dan harga diri bangsa yang sudah merdeka.

Pagi-pagi sekali pada 10 November itu, tentara Inggris melancarkan serangan.

Serangan tersebut dibalas dengan perlawanan sengit dari pasukan dan milisi Indonesia.

Pada pertempuran ini, ada banyak tokoh yang menggerakkan perlawanan.

Salah satu yang paling kita kenal, Bung Tomo yang membakar semangat para pejuang Indonesia dengan pidatonya.

Ada pula tokoh-tokoh lain seperti KH Hasyim Asyari dan KH Wahab Hasbullah.

Pertempuran Surabaya berlangsung cukup panjang karena alotnya perlawanan dari pihak Indonesia.

Pertempuran ini baru mereda sekitar tiga minggu kemudian.

Diperkirakan 6.000–16.000 pejuang Indonesia gugur dalam pertempuran ini.

Kehilangan yang besar itu lantas menularkan semangat perlawanan di berbagai daerah lain di Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu, tanggal 10 November lantas ditetapkan pemerintah sebagai Hari Pahlawan




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment